Login Member
Username:
Password :
Agenda
24 September 2018
M
S
S
R
K
J
S
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6

 

MARS SMP N 8 YOGYAKARTA

Marilah seluruh siswa siswi
SMP 8 Yogyakarta
Rajin dan giatlah selalu
Tak kenal rintangan

Ingatlah akan kewajibanmu
Mencari Ilmu
Giatlah belajar janganlah kau ingkar
Dengan Insyaf dan sadar

Junjung dan hormatlah
Nama sekolahmu
SMP Negeri 8 Yogyakarta


 

HYMNE SMP N 8 YOGYAKARTA

Dengan bersyukur pada Tuhan Yang Kuasa
Atas segala KaruniaNya
Membimbing kami menjadi insan mulia
SMP Delapan Yogyakarta


Berkarya membangun jiwa
Siapkan masa depan bagi generasi mandiri
Budayakan prestasi dari masa ke masa
Smoga jaya slamanya


Sejarah SMP Negeri 8 Yogyakarta

Salah satu bagian yang cukup penting dari kebijaksanaan Politik Etis adalah bidang pendidikan. Kebijaksanaan dalam bidang pendidikan bukan hanya suatu bagian dari politik kolonial, akan tetapi menurut Brugmans merupakan inti politik kolonial. Munculnya Politik Etis membawa perkembangan pendidikan yang cukup pesat di seluruh wilayah Hindia Belanda termasuk Surakarta. Dalam pelaksanaan Politik Etis memang banyak penyelewengannya, namun demikian bukan berarti tidak berdampak positif. Politik Etis telah mendorong perubahan sosial dikalangan penduduk pribumi. Hal itu disebabkan banyak penduduk Bumiputera yang kemudian mengenyam pendidikan Barat sebagai suatu cara untuk merubah pemikiran yang tradisional. Pendidikan dianggap sebagai alat penyeleksi dan latihan seseorang untuk memperoleh jabatan dalam masyarakat, seperti halnya di Jawa yang merupakan pusat kekuasaan kolonial. Sistem pendidikan di Jawa menunjukkan bahwa pendidikan menjadi kriteria yang lazim untuk pengangkatan pegawai pada berbagai dinas, baik pada lembaga pemerintah maupun pada perusahaan-perusahaan individual.

Sejarah perkembangan pendidikan modern di Indonesia tidak terlepas dari Politik Etis yang diterapkan Belanda, dengan Trilogi Van Deventer yaitu pendidikan, imigrasi dan pengairan. Dengan Trilogi Van Deventer inilah pemerintah Belanda dituntut memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia yang telah memberi kekayaan kepada negeri Belanda. Dalam bidang pendidikan, pemerintah Belanda menjalankan “politik pemisahan” (segregation), yaitu politik diskriminasi ras menjadi tiga golongan : Belanda, Timur Asing (Cina), dan Pribumi. Pada awalnya persoalan pendidikan rakyat pribumi (inlandsche bevolking) kurang diperhatikan oleh pemerintah kolonial Belanda, termasuk pendidikan orang pribumi di Indonesia.

Pada awalnya gedung SMP 8 Yogyakarta merupakan gedung Neutraale MULO ( sekolah setingkat SMP dengan pengantar bahasa Belanda), yang terletak di jalan Jati No. 2 Yogyakarta (sekarang Jl Prof DR. Kahar Muzakkir). Pada masa pendudukan Jepang, tepatnya 1 April 1943, gedung ini dipergunakan sebagai tempat pendidikan SGP (Sekolah Guru Putri) atau SGB II dibawah pimpinan Sri Umiyati, adik Dr. Sutomo (pendiri Budi Utomo). Terjadinya Clash II dan kota Yogyakarta diduduki Belanda, maka SGP mulai tanggal 18 Desember 1948 sampai 29 Juni 1949 ditutup dan dibuka kembali tanggal 8 Agustus 1949. Gedung ini pernah digunakan untuk pertemuan Jenderal Soedirman pada perang mempertahankan kemerdekaan. Di ruang aula pernah dipakai sebagai tempat pelantikan Jenderal Soedirman. Dalam perkembangannya bangunan ini digunakan untuk SMP 7 Yogyakarta dan akhirnya digunakan sebagai gedung SMP 8 Yogyakarta sampai sekarang.

Gedung SMP Negeri 8 Yogyakarta pada tahun 1954 di atas tanah berukuran 9567 m2. tempat penyelenggaraan pendidikan SGP (Sekolah Guru Pertama). Kemudian pada tahun 1956 SGP ini berubah menjadi SGB II (Sekolah Guru Biasa), dan pada saat itu tampuk kepemimpinan sekolahnya adalah Bapak Samidjo Hadi Supatmo, BA. 

Lalu pada tanggal 1 Agustus 1960, gedung SGB II itu diubah menjadi  gedung SMP Negeri  8 Yogyakarta, dan pada saat itulah Ibu Mandoyo Dewono diserahi tanggungjawab sebagai kepala sekolah pertama sekolah kita yang kita banggakan ini. Beliau menduduki jabatan kepala sekolah kurang lebih selama sepuluh tahun.

Pada tahun 1970, beliau digantikan oleh Bapak Drs. Soewondo Dwiatmojo, yang mengepalai SMP Negeri 8 Yogyakarta selama dua belas tahun. Ini adalah periode terpanjang yang pernah ada di dalam sejarah SMP Negeri  8 Yogyakarta. Masa pemerintahan beliau berakhir pada tanggal 31 Maret 1982, dan saat itu pula masa kepemimpinan Bapak Soewondo berakhir dan digantikan oleh Bapak Drs. Suyadi dimulai. Drs. Suyadi menjadi kepala sekolah selama 6 tahun 10 bulan dan 16 hari, karena pada tanggal 16 Februari 1989 beliau digantikan oleh Bapak Drs. Suraji yang mulai memimpin SMP Negeri 8 Yogyakarta menjalankan kepemimpinan selanjutnya. Tiga setengah tahun menjelang, kemudian beliau digantikan oleh Bapak Drs. Soenarto yang menjabat sebagai kepala sekolah SMP Negeri 8 Yogyakarta sejak tanggal 8 Agustus 1992 hingga tanggal 16 September 1994. Pada tanggal yang sama pula, Drs. Soenarto digantikan oleh Bapak Soetarman, BA.

Bapak Soetarman, BA menjabat sebagai kepala sekolah SMP Negeri 8 Yogyakarta selama 5 tahun. Pada tanggal 9 Februari 1999, beliau digantikan oleh Bapak Drs. H. Mas’udi Asy M.Pd. yang menjabat selama sekitar sembilan tahun. Selama sembilan tahun itu pula, SMP N 8 Yogyakarta mengalami perkembangan-perkembangan yang dirasa sangat berarti bagi seluruh civitas akademika di lingkungan SMP Negeri 8 Yogyakarta. Beberapa infranstruktur dibangun, seperti di antaranya adalah masjid sekolah yang dapat menampung sekitar 75 % dari seluruh warga sekolah yang berjumlah lebih dari 1100 jiwa. Dan lagi, selama masa kepemimpinan Bapak Mas’udi Asy itu pula SMP Negeri 8 Yogyakarta naik tingkat menjadi Sekolah Standar Nasional atau yang lebih familiar disebut dengan kata ‘SSN’, tepatnya pada tahun ajaran 2004/2005. Tak puas dengan gelar itu, akhirnya SMP Negeri 8 Yogyakarta terakreditasi ‘amat baik’, nilai yang  mengharumkan nama SMP Negeri 8 Yogyakarta.

Sayang beribu sayang, Bapak Drs. H. Mas’udi Asy, M.Pd. akhirnya harus mengucapkan selamat tinggal kepada seluruh warga SMP Negeri 8 Yogyakarta, karena beliau dipindah tugaskan ke sekolah yang letaknya tak begitu jauh dari SMP Negeri 8 Yogyakarta, yaitu SMP Negeri 1 Yogyakarta.

Namun tak sia-sia Bapak Drs. H. Mas’udi Asy, M.Pd. berjuang demi SMP Negeri 8 Yogyakarta tercinta ini. Pengganti beliau yaitu Bapak Pardi H.S. S.Pd. berusaha untuk memajukan SMP Negeri 8 Yogyakarta. Beliau dulunya memimpin SMP N 7 Yogyakarta. Bapak tiga anak yang lahir di Kulonprogo, 18 Maret 1951 ini siap menyongsong hari yang cerah untuk SMP Negeri 8 Yogyakarta, menjalankan tugas mulia yaitu menjadi kepala sekolah kita hingga pertengahan Tahun 2011. Dan pada tahun 2011 Bapak Pardi HS pensiun dan digantikan sementara oleh Bpk. Drs. Martoyo selama beberapa bulan, hingga akhirnya SMP Negeri 8 mempunyai Kepala Sekolah yang baru yaitu Bapak. H. Suharno, S.Pd. S.Pd.T, M.Pd. sekitar pertengahan 2011 ini sampai pertengahan bulan April 2016 lalu, banyak prestasi yang dihasilkan dari kepemimpinan Bapak H. Suharno S.Pd. S.Pd.T, M.Pd. untuk SMP Negeri 8 Yogyakarta, banyak juga infrastruktur yang dibangun salah satunya adalah kerja sama dengan orang tua wali siswa hingga terbentuknya Kanopi untuk lapangan basket siswa. Hingga pada bulan April 2016, lalu Bapak H. Suharno S.Pd. S.Pd.T, M.Pd. melanjutkan tugasnya ke SMP Negeri 5 Yogyakarta dan Kepemimpinan Kepala Sekolah di SMP Negeri 8 Yogyakarta digantikan oleh Ibu Dra. Nuryani Agustina, M.Pd. hingga sekarang Semoga SMP Negeri 8 ini lebih maju dan selalu menjadi SMP yang terdepan dibawah kepemimpinan Beliau. Amiin.