Login Member
Username:
Password :
Agenda
17 October 2017
M
S
S
R
K
J
S
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

 

MARS SMP N 8 YOGYAKARTA

Marilah seluruh siswa siswi
SMP 8 Yogyakarta
Rajin dan giatlah selalu
Tak kenal rintangan

Ingatlah akan kewajibanmu
Mencari Ilmu
Giatlah belajar janganlah kau ingkar
Dengan Insyaf dan sadar

Junjung dan hormatlah
Nama sekolahmu
SMP Negeri 8 Yogyakarta


Sejarah SMP Negeri 8 Yogyakarta


Salah satu bagian yang cukup penting dari kebijaksanaan Politik Etis adalah bidang pendidikan. Kebijaksanaan dalam bidang pendidikan bukan hanya suatu bagian dari politik kolonial, akan tetapi menurut Brugmans merupakan inti politik kolonial. Munculnya Politik Etis membawa perkembangan pendidikan yang cukup pesat di seluruh wilayah Hindia Belanda termasuk Surakarta. Dalam pelaksanaan Politik Etis memang banyak penyelewengannya, namun demikian bukan berarti tidak berdampak positif. Politik Etis telah mendorong perubahan sosial dikalangan penduduk pribumi. Hal itu disebabkan banyak penduduk Bumiputera yang kemudian mengenyam pendidikan Barat sebagai suatu cara untuk merubah pemikiran yang tradisional. Pendidikan dianggap sebagai alat penyeleksi dan latihan seseorang untuk memperoleh jabatan dalam masyarakat, seperti halnya di Jawa yang merupakan pusat kekuasaan kolonial. Sistem pendidikan di Jawa menunjukkan bahwa pendidikan menjadi kriteria yang lazim untuk pengangkatan pegawai pada berbagai dinas, baik pada lembaga pemerintah maupun pada perusahaan-perusahaan individual.

 

Sejarah perkembangan pendidikan modern di Indonesia tidak terlepas dari Politik Etis yang diterapkan Belanda, dengan Trilogi Van Deventer yaitu pendidikan, imigrasi dan pengairan. Dengan Trilogi Van Deventer inilah pemerintah Belanda dituntut memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia yang telah memberi kekayaan kepada negeri Belanda. Dalam bidang pendidikan, pemerintah Belanda menjalankan “politik pemisahan” (segregation), yaitu politik diskriminasi ras menjadi tiga golongan : Belanda, Timur Asing (Cina), dan Pribumi. Pada awalnya persoalan pendidikan rakyat pribumi (inlandsche bevolking) kurang diperhatikan oleh pemerintah kolonial Belanda, termasuk pendidikan orang pribumi di Indonesia.

 

Pada awalnya gedung SMP 8 Yogyakarta merupakan gedung Neutraale MULO ( sekolah setingkat SMP dengan pengantar bahasa Belanda), yang terletak di jalan Jati No. 2 Yogyakarta (sekarang Jl Prof DR. Kahar Muzakkir). Pada masa pendudukan Jepang, tepatnya 1 April 1943, gedung ini dipergunakan sebagai tempat pendidikan SGP (Sekolah Guru Putri) atau SGB II dibawah pimpinan Sri Umiyati, adik Dr. Sutomo (pendiri Budi Utomo). Terjadinya Clash II dan kota Yogyakarta diduduki Belanda, maka SGP mulai tanggal 18 Desember 1948 sampai 29 Juni 1949 ditutup dan dibuka kembali tanggal 8 Agustus 1949. Gedung ini pernah digunakan untuk pertemuan Jenderal Soedirman pada perang mempertahankan kemerdekaan. Di ruang aula pernah dipakai sebagai tempat pelantikan Jenderal Soedirman. Dalam perkembangannya bangunan ini digunakan untuk SMP 7 Yogyakarta dan akhirnya digunakan sebagai gedung SMP 8 Yogyakarta sampai sekarang.

 

Gedung SMP 8 pada tahun 1954 di atas tanah berukuran

9567 m2. tempat penyelenggaraan pendidikan SGP (Sekolah Guru Pertama). Kemudian

pada tahun 1956 SGP ini berubah menjadi SGB II (Sekolah Guru Biasa), dan pada

saat itu tampuk kepemimpinan sekolahnya adalah Bapak Samidjo Hadi Supatmo, BA.

Lalu pada tanggal 1 Agustus 1960, seperti yang telah kita duga, gedung

SGB II itu diubah menjadi gedung SMP Negeri  8 Yogyakarta, dan pada saat itulah Ibu

Mandoyo Dewono diserahi tanggungjawab sebagai kepala sekolah pertama

sekolah kita yang kita banggakan ini. Beliau menduduki jabatan kepala sekolah

kurang lebih selama sepuluh tahun. Pada tahun 1970, beliau digantikan oleh

Bapak Drs. Soewondo Dwiatmojo, yang mengepalai SMP N 8 Yogyakarta selama

dua belas tahun. Ini adalah periode terpanjang yang pernah ada di dalam

sejarah SMP N 8 Yogyakarta. Masa pemerintahan beliau berakhir pada tanggal

31 Maret 1982, dan saat itu pula masa kepemimpinan Bapak Drs. Suyadi

dimulai. Drs. Suyadi menjadi kepala sekolah selama 6 tahun 10 bulan dan 16 hari,

karena pada tanggal 16 Februari 1989 Bapak Drs. Suraji mulai memimpin SMP N

8 Yogyakarta. Tiga setengah tahun menjelang, kemudian beliau digantikan oleh

Bapak Drs. Soenarto yang menjabat sebagai kepala sekolah SMP N 8 Yogyakarta

sejak tanggal 8 Agustus 1992 hingga tanggal 16 September 1994. Pada tanggal yang

sama pula, Drs. Soenarto digantikan oleh Bapak Soetarman, BA.

Bapak Soetarman, BA menjabat sebagai kepala sekolah SMP N 8

Yogyakarta selama 5 tahun. Pada tanggal 9 Februari 1999, beliau digantikan

oleh Bapak Drs. H. Mas’udi Asy M.Pd. yang menjabat selama sekitar sembilan tahun. Selama

sembilan tahun itu pula, SMP N 8 Yogyakarta mengalami perkembangan-

perkembangan yang dirasa sangat berarti bagi seluruh civitas akademika di

lingkungan SMP N 8 Yogyakarta. Beberapa infranstruktur dibangun, seperti di

antaranya adalah masjid sekolah yang dapat menampung sekitar 75 % dari

seluruh warga sekolah yang berjumlah lebih dari 1100 jiwa. Dan lagi, selama

masa kepemimpinan Bapak Mas’udi Asy itu pula SMP N 8 Yogyakarta naik

tingkat menjadi Sekolah Standar Nasional atau yang lebih familiar disebut

dengan kata ‘SSN’, tepatnya pada tahun ajaran 2004/2005. Tak puas dengan

gelar itu, akhirnya SMP N 8 Yogyakarta terakreditasi ‘amat baik’, nilai yang

sudah diduga akan mengharumkan nama SMP N 8 Yogyakarta.

Sayang beribu sayang, Bapak Mas’udi Asy akhirnya harus mengucapkan

selamat tinggal kepada seluruh warga SMP N 8 Yogyakarta, karena beliau

dipindah tugaskan ke sekolah yang letaknya tak begitu jauh dari SMP N 8

Yogyakarta, dan seperti yang kita tahu adalah SMP N 1 Yogyakarta.

Namun ‘esa hilang, dua terbilang’. Tak sia-sia Bapak Mas’udi Asy berjuang

demi SMP N 8 Yogyakarta tercinta ini. Sebab pengganti beliau pun tak kalah

bermutu dan bagus dibanding baliau. Siapakah beliau? Tentu saja, kita pasti

sudah dapat menebaknya, yaitu kepala sekolah kita yang sekarang : Bapak

Pardi H.S. S.Pd. Beliau dulunya memimpin SMP N 7 Yogyakarta. Bapak tiga anak

yang lahir di pelosok Kulonprogo, 18 Maret 1951 ini siap menyongsong hari yang

labih cerah untuk SMP N 8 Yogyakarta, menjalankan tugas mulia yaitu menjadi

kepala sekolah kita hingga saat artikel ini dibuat. Pada tahun 2008, tahun

dimana Bapak Pardi mulai memimpin sekolah kita, SMP N 8 Yogyakarta memulai

program RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) yang diterapkan secara

khusus untuk dua kelas, yaitu kelas VII 9 dan kelas VII 10 (pada masa itu, berarti

yang dimaksud disini adalah siswa-siswi SMP N 8 Yogyakarta angkatan 2011).

Pada dua kelas yang telah dijatah kuotanya hingga berjumlah 28 anak per kelas

itu telah dilengkapi dengan komputer, LCD, Audio Visual, Air Conditioner (AC),

dan sebagainya. Selain itu pembelajarannya juga berbeda dengan kelas lain

yang tergolong reguler (VII 1 sampai dengan kelas VII 8), yaitu dengan

pembelajaran yang berbasis teknologi informasi / internet serta menjalin sebuah

partnership dengan sekolah-sekolah modern di luar negeri, Namun pada tahun 2011 Bapak Pardi HS

pensiun dan digantikan sementara oleh Bpk. Drs. Martoyo selama beberapa bulan, hingga akhirnya

SMPN 8 mempunyai Kepala Sekolah yang Handal dan Cerdas yaitu Bpk. H. Suharno, S.Pd. S.Pd.T, M.Pd.

sekitar pertengahan 2011 ini sampai pertengahan bulan April 2016 lalu, banyak prestasi yang

 dihasilkan dari kepemimpinan Bapak H. Suharno S.Pd. S.Pd.T, M.Pd. Hingga pada bulan April 2016

Bapak H. Suharno S.Pd. S.Pd.T, M.Pd. melanjutkan tugasnya ke SMP Negeri 5 Yogyakarta dan

Kepemimpinan Kepala Sekolah di SMP Negeri 8 Yogyakarta digantikan oleh

Ibu Dra. Nuryani Agustina, M.Pd.

Semoga SMP Negeri 8 ini lebih maju dan selalu menjadi SMP yang terdepan

dibawah kepemimpinan Beliau