Login Member
Username:
Password :
Agenda
25 September 2022
M
S
S
R
K
J
S
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8

 

MARS SMP N 8 YOGYAKARTA

Ciptaan: Bapak Supolo

Marilah seluruh siswa siswi
SMP 8 Yogyakarta
Rajin dan giatlah selalu
Tak kenal rintangan

Ingatlah akan kewajibanmu
Mencari Ilmu
Giatlah belajar janganlah kau ingkar
Dengan Insyaf dan sadar

Junjung dan hormatlah
Nama sekolahmu
SMP Negeri 8 Yogyakarta

 

 

HYMNE SMP N 8 YOGYAKARTA

Ciptaan: Bapak Marjudi, S.Pd.

Dengan bersyukur pada Tuhan Yang Kuasa
Atas segala KaruniaNya
Membimbing kami menjadi insan mulia
SMP Delapan Yogyakarta

Berkarya membangun jiwa
Siapkan masa depan bagi generasi mandiri
Budayakan prestasi dari masa ke masa
Smoga jaya slamanya

Sejarah SMP Negeri 8 Yogyakarta

Salah satu bagian yang cukup penting dari kebijaksanaan Politik Etis adalah bidang pendidikan. Kebijaksanaan dalam bidang pendidikan bukan hanya suatu bagian dari politik kolonial, akan tetapi menurut Brugmans merupakan inti politik kolonial. Munculnya Politik Etis membawa perkembangan pendidikan yang cukup pesat di seluruh wilayah Hindia Belanda termasuk Surakarta. Dalam pelaksanaan Politik Etis memang banyak penyelewengannya, namun demikian bukan berarti tidak berdampak positif. Politik Etis telah mendorong perubahan sosial dikalangan penduduk pribumi. Hal itu disebabkan banyak penduduk Bumiputera yang kemudian mengenyam pendidikan Barat sebagai suatu cara untuk merubah pemikiran yang tradisional. Pendidikan dianggap sebagai alat penyeleksi dan latihan seseorang untuk memperoleh jabatan dalam masyarakat, seperti halnya di Jawa yang merupakan pusat kekuasaan kolonial. Sistem pendidikan di Jawa menunjukkan bahwa pendidikan menjadi kriteria yang lazim untuk pengangkatan pegawai pada berbagai dinas, baik pada lembaga pemerintah maupun pada perusahaan-perusahaan individual.

Sejarah perkembangan pendidikan modern di Indonesia tidak terlepas dari Politik Etis yang diterapkan Belanda, dengan Trilogi Van Deventer yaitu pendidikan, imigrasi dan pengairan. Dengan Trilogi Van Deventer inilah pemerintah Belanda dituntut memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia yang telah memberi kekayaan kepada negeri Belanda. Dalam bidang pendidikan, pemerintah Belanda menjalankan “politik pemisahan” (segregation), yaitu politik diskriminasi ras menjadi tiga golongan : Belanda, Timur Asing (Cina), dan Pribumi. Pada awalnya persoalan pendidikan rakyat pribumi (inlandsche bevolking) kurang diperhatikan oleh pemerintah kolonial Belanda, termasuk pendidikan orang pribumi di Indonesia.

Pada awalnya gedung SMP 8 Yogyakarta merupakan gedung Neutraale MULO ( sekolah setingkat SMP dengan pengantar bahasa Belanda), yang terletak di jalan Jati No. 2 Yogyakarta (sekarang Jl Prof DR. Kahar Muzakkir). Pada masa pendudukan Jepang, tepatnya 1 April 1943, gedung ini dipergunakan sebagai tempat pendidikan SGP (Sekolah Guru Putri) atau SGB II dibawah pimpinan Sri Umiyati, adik Dr. Sutomo (pendiri Budi Utomo). Terjadinya Clash II dan kota Yogyakarta diduduki Belanda, maka SGP mulai tanggal 18 Desember 1948 sampai 29 Juni 1949 ditutup dan dibuka kembali tanggal 8 Agustus 1949. Gedung ini pernah digunakan untuk pertemuan Jenderal Soedirman pada perang mempertahankan kemerdekaan. Di ruang aula pernah dipakai sebagai tempat pelantikan Jenderal Soedirman. Dalam perkembangannya bangunan ini digunakan untuk SMP 7 Yogyakarta dan akhirnya digunakan sebagai gedung SMP 8 Yogyakarta sampai sekarang.

Gedung SMP Negeri 8 Yogyakarta pada tahun 1954 di atas tanah berukuran 9567 m2. tempat penyelenggaraan pendidikan SGP (Sekolah Guru Pertama). Kemudian pada tahun 1956 SGP ini berubah menjadi SGB II (Sekolah Guru Biasa), dan pada saat itu tampuk kepemimpinan sekolahnya adalah Bapak Samidjo Hadi Supatmo, BA. 

Lalu pada tanggal 1 Agustus 1960, gedung SGB II itu diubah menjadi  gedung SMP Negeri  8 Yogyakarta, dan pada saat itulah Ibu Mandoyo Dewono diserahi tanggungjawab sebagai kepala sekolah pertama sekolah kita yang kita banggakan ini. Beliau menduduki jabatan kepala sekolah kurang lebih selama sepuluh tahun.

Pada tahun 1970, beliau digantikan oleh Bapak Drs. Soewondo Dwiatmojo, yang mengepalai SMP Negeri 8 Yogyakarta selama dua belas tahun. Ini adalah periode terpanjang yang pernah ada di dalam sejarah SMP Negeri  8 Yogyakarta. Masa pemerintahan beliau berakhir pada tanggal 31 Maret 1982, dan saat itu pula masa kepemimpinan Bapak Soewondo berakhir dan digantikan oleh Bapak Drs. Suyadi dimulai. Drs. Suyadi menjadi kepala sekolah selama 6 tahun 10 bulan dan 16 hari, karena pada tanggal 16 Februari 1989 beliau digantikan oleh Bapak Drs. Suraji yang mulai memimpin SMP Negeri 8 Yogyakarta menjalankan kepemimpinan selanjutnya. Tiga setengah tahun menjelang, kemudian beliau digantikan oleh Bapak Drs. Soenarto yang menjabat sebagai kepala sekolah SMP Negeri 8 Yogyakarta sejak tanggal 8 Agustus 1992 hingga tanggal 16 September 1994. Pada tanggal yang sama pula, Drs. Soenarto digantikan oleh Bapak Soetarman, BA.

Bapak Soetarman, BA menjabat sebagai kepala sekolah SMP Negeri 8 Yogyakarta selama 5 tahun. Pada tanggal 9 Februari 1999, beliau digantikan oleh Bapak Drs. H. Mas’udi Asy M.Pd. yang menjabat selama sekitar sembilan tahun. Selama sembilan tahun itu pula, SMP N 8 Yogyakarta mengalami perkembangan-perkembangan yang dirasa sangat berarti bagi seluruh civitas akademika di lingkungan SMP Negeri 8 Yogyakarta. Beberapa infranstruktur dibangun, seperti di antaranya adalah masjid sekolah yang dapat menampung sekitar 75 % dari seluruh warga sekolah yang berjumlah lebih dari 1100 jiwa. Dan lagi, selama masa kepemimpinan Bapak Mas’udi Asy itu pula SMP Negeri 8 Yogyakarta naik tingkat menjadi Sekolah Standar Nasional atau yang lebih familiar disebut dengan kata ‘SSN’, tepatnya pada tahun ajaran 2004/2005. Tak puas dengan gelar itu, akhirnya SMP Negeri 8 Yogyakarta terakreditasi ‘amat baik’, nilai yang  mengharumkan nama SMP Negeri 8 Yogyakarta.

Sayang beribu sayang, Bapak Drs. H. Mas’udi Asy, M.Pd. akhirnya harus mengucapkan selamat tinggal kepada seluruh warga SMP Negeri 8 Yogyakarta, karena beliau dipindah tugaskan ke sekolah yang letaknya tak begitu jauh dari SMP Negeri 8 Yogyakarta, yaitu SMP Negeri 1 Yogyakarta.

Namun tak sia-sia Bapak Drs. H. Mas’udi Asy, M.Pd. berjuang demi SMP Negeri 8 Yogyakarta tercinta ini. Pengganti beliau yaitu Bapak Pardi H.S. S.Pd. berusaha untuk memajukan SMP Negeri 8 Yogyakarta. Beliau dulunya memimpin SMP N 7 Yogyakarta. Bapak tiga anak yang lahir di Kulonprogo, 18 Maret 1951 ini siap menyongsong hari yang cerah untuk SMP Negeri 8 Yogyakarta, menjalankan tugas mulia yaitu menjadi kepala sekolah kita hingga pertengahan Tahun 2011. Dan pada tahun 2011 Bapak Pardi HS pensiun dan digantikan sementara oleh Bpk. Drs. Martoyo selama beberapa bulan, hingga akhirnya SMP Negeri 8 mempunyai Kepala Sekolah yang baru yaitu Bapak. H. Suharno, S.Pd. S.Pd.T, M.Pd. sekitar pertengahan 2011 ini sampai pertengahan bulan April 2016 lalu, banyak prestasi yang dihasilkan dari kepemimpinan Bapak H. Suharno S.Pd. S.Pd.T, M.Pd. untuk SMP Negeri 8 Yogyakarta, banyak juga infrastruktur yang dibangun salah satunya adalah kerja sama dengan orang tua wali siswa hingga terbentuknya Kanopi untuk lapangan basket siswa. Hingga pada bulan April 2016, lalu Bapak H. Suharno S.Pd. S.Pd.T, M.Pd. melanjutkan tugasnya ke SMP Negeri 5 Yogyakarta dan Kepemimpinan Kepala Sekolah di SMP Negeri 8 Yogyakarta digantikan oleh Ibu Dra. Nuryani Agustina, M.Pd. hingga tanggal 28 Desember 2018 kemarin Ibu Nuryani Agustina, M.Pd. dipindah tugaskan ke SMP Negeri 5 Yogyakarta. Sekarang ini SMP Negeri 8 mempunyai Kepala Sekolah yang baru yaitu, Ibu Retna Wuryaningsih, S.Pd. M.Pd. Sebelumnya beliau memimpin SMP Negeri 6 Yogyakarta. Secara garis besar capaian yang sudah diraih/diperoleh atau dilaksanakan dibahwa kepemimpinan Ibu Retna Wuryaningsih, S.Pd. M.Pd. adalah:

1.  Prestasi Akademik maupun non akademik:

  • Tahun 2019 pada saat masih ada Ujian Nasional (UN) terakhir sebelum UN dihapus, SMP Negeri 8 Yogyakarta berhasil meraih peringkat 4 hasil rata-rata Ujian Nasional di Tingkat Nasional dengan rata-rata 93,61
  • Selanjutnya setelah ujian nasional dihapus, pemerintah mengadakan Asesmen Nasional mulai tahun 2021. Hasil Asesmen Nasional (AN) tahun 2021 untuk SMP Negeri 8 Yogyakarta, Kemampuan Literasi rata-rata 2,82 dan kemampuan numerasi rata-rata 2,53 dari skor capaian maks 3,0. Hasil ini diatas rata-rata Kota, Propinsi maupun Nasional. Sedangkan Indeks Karakternya 3,00 dari skor maksimum 3,00 artinya peserta didik secara proaktif dan konsisten telah menerapkan nilai-nilai karakter Pancasila.
  • Sedangkan dari hasil ASPD (Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah) SMP Negeri 8 Yogyakarta masih berada pada peringkat 2 di Kota Yogyakarta. Semoga kedepan bisa meraih yang terbaik.
  • Dimasa sebelum pandemi dan disaat pandemi inipun semangat dan prestasi para siswa untuk mengikuti berbagai lomba atau kompetisi sangat luar biasa, para siswa banyak menjuarai lomba-lomba dari tingkat Kota sampai tingkat Nasional bahkan Internasional baik melalui daring maupun luring: misal Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLSSN) (tari dan karawitan), Olympiade Sains Nasional (OSN) mapel IPA, Matematika dan IPS, MTQ, Pramuka, Kompetisi Penelitian Siswa Indonesia (KOPSI) , Tonti saat sebelum pandemi meraih tropi bergilir dari Walikota dsb.
  • Indicator keberhasilan prestasi para siswa oleh Kemdikbudristek diapresiasi dalam ujud Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Kinerja dan BOS Prestasi. Bulan-bulan akhir tahun 2019 dilanjutkan penggunaan anggarannya di tahun 2020, SMP Negeri 8 Yogyakarta memperoleh BOS Kinerja 715 juta.
  • Tahun 2021 mendapat BOS Prestasi sebesar 60 juta
  • Tahun 2022 ini mendapat lagi BOS Prestasi sebesar 60 juta dan BOS Karakter sekitar 80 juta dari Pemkot yang masing-masing penggunaannya sesuai rambu-rambu yang disampaikan oleh Kemdikbudristek maupun Pemkot/Dinas. (biasanya dilaksanakan bulan September-November).

2. Dari sisi Sarana Prasarana:

  • Secara umum telah memenuhi persyaratan Standar Nasional Pendidikan. Bahkan dimasa pandemic covid 19 SMP Negeri 8 Yogyakarta terdepan dalam kelengkapan dan kesiapan sarana prasarana untuk menuju budaya baru sehingga dipergunakan sebagai sekolah percontohan dalam kesiapan pembelajaran tatap muka di masa pandemi covid 19.
  • Selain itu Perbaikan/perawatan sarana prasarana juga terus diupayakan dengan menganggarkan pembuatan ruang pertemuan baru disebelah timur, perbaikan perpustakaan untuk menuju akreditasi perpustakaan. Dan alhamdulillah tahun 2021 akreditasi perpustakaan Bhawara Pustaka memperoleh predikat A. Selain itu perawatan dan kebersihan lingkungan terus diupayakan agar tetap asri, bersih, sejuk nyaman dan rindang sehingga SMP Negeri 8 Yogyakarta berhasil masuk dalam Adiwiyata Tingkat Propinsi untuk menuju ke Tingkat Nasional. Selain itu hal yang belum dilakukan oleh sekolah lain tetapi saat ini sedang dilakukan oleh SMPN 8 Yk yaitu tentang pemusnahan kearsipan melalui Dindikpora dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Masih dalam proses untuk dilanjutkan oleh Ibu Binarsih.
  • Menjalin Kerjasama yang baik dengan komite dan orangtua siswa sehingga hubungan sekolah dengan orangtua dan komite terorganisir dengan baik sesuai dengan Permendikbud 75 tahun 2016 tentang komite sekolah
  • Menjalin Kerjasama yang baik dengan alumni. Salah satu contohnya dengan adanya bantuan secara sukarela oleh alumni dalam mewujudkan tambahan tempat wudhu dan ruang baru untuk wakil kepala sekolah/staf. Jika tidak ada pandemi pastinya kegiatan dari komite maupun alumni akan semakin banyak lagi. Selain itu juga menjalin komunikasi yang baik dengan berbagai pihak, baik dengan Kecamatan, Kelurahan, Puskesmas, Polsek dan sebagainya untuk kemajuan SMP Negeri 8 Yogyakarta. LO DIY dan Forpi.

Pesan dan Kesan dari Ibu Retna Wuryaningsih, S.Pd. M.Pd. : ini adalah sebagian dari yang sudah kami lakukan bersama teman-teman keluarga besar SMP Negeri 8 Yogyakarta, karena saya tidak bisa bekerja sendiri dalam suatu instansi, tanpa kerjasama yang baik dengan teman-teman semua. Terimakasih atas kerjasama kita selama ini dan semoga kekompakan ini akan terus terjaga. Harapan ke depan untuk SMP Negeri 8 Yogyakarta semoga tetap mendidik dan menghasilkan siswa siswi yang berkarakter, berprestasi dan tetap jaya sepanjang masa. Menjadi sekolah kebanggaan kita semua. Dengan moto: Tradisi Prestasi Tiada Henti.

Pada tanggal 27 April 2022, Ibu Retna Wuryaningsih, S.Pd. M.Pd. dilantik menjadi Pengawas SMP pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta. Kemudian Jabatan Kepala Sekolah di amanahkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta kepada Ibu Dra. Binarsih Sukaryanti, M.Pd. sebagai Kepala Sekolah yang ke-12 menggantikan Ibu Retna Wuryaningsih, S.Pd. M.Pd. Semoga SMP Negeri 8 ini lebih maju dan selalu menjadi SMP yang terdepan. Amiin.